Senandung lirih
Antara ada dan tiada
Menyelinap ke dalam sukma
Memenuhi setiap relung jiwa
Mengendap di dasarnya
Mungkinkah suatu saat memunculkan sinarnya?
Jumat, 23 Januari 2009
Sabtu, 03 Januari 2009
Bintang Jatuh
Kami pernah menyala
berdua bernyawa
Kemudian mati bersama
Kini ku kembali
Dalam dendam ke jalanan sepi
Aku sudah mati
tetapi di sini ku bergetar lagi
Aku sudah mati
tetapi di sini ku bergoncang lagi
Di sini aku
berdiri di tempatku yang dulu
dimana ku sering merenungimu
Bulan kehilangan
satu bintang yang tidak pernah mampu bersinar
Langit kesepian
karena jatuh satu bintang suram
Kumenangisi jatuhnya bintang
Ku tak mampu menghidupkan
(mengingatmu, bergetar, bergoncang)
berdua bernyawa
Kemudian mati bersama
Kini ku kembali
Dalam dendam ke jalanan sepi
Aku sudah mati
tetapi di sini ku bergetar lagi
Aku sudah mati
tetapi di sini ku bergoncang lagi
Di sini aku
berdiri di tempatku yang dulu
dimana ku sering merenungimu
Bulan kehilangan
satu bintang yang tidak pernah mampu bersinar
Langit kesepian
karena jatuh satu bintang suram
Kumenangisi jatuhnya bintang
Ku tak mampu menghidupkan
(mengingatmu, bergetar, bergoncang)
Jumat, 14 November 2008
SEGELAS KOPI SEPIRING KECIL CAMILAN
Mari duduk bersama
Berbicara tentang kita
Menggali rindu yang pernah ada
Mengingat tawa yang enggan mereda
Tersenyum karena pernah tumpah air mata cinta
Dengan segelas kopi
Sepiring kecil camilan
Dalam cahaya temaram
Sudah lama ku menantikan
Mari duduk bersama,
Duduklah agak lama,
Supaya kembali hangat hati kita
Berbicara tentang kita
Menggali rindu yang pernah ada
Mengingat tawa yang enggan mereda
Tersenyum karena pernah tumpah air mata cinta
Dengan segelas kopi
Sepiring kecil camilan
Dalam cahaya temaram
Sudah lama ku menantikan
Mari duduk bersama,
Duduklah agak lama,
Supaya kembali hangat hati kita
Kamis, 13 November 2008
Selasa, 11 November 2008
WELCOME HOME
Kau berkata kau hendak bertapa
Menurutku kau mengembara
Kau berkata kau butuh waktu untuk merasa
Menurutku ini terlalu lama
Kau berkata kau bahagia karena ku bahagia
Menurutku ini adalah lara
Kau berkata kau tidak akan pulang
Menurutku tidak demikian
Ini rumahmu
Di sini kenanganmu
Di sini tersimpan kekayaanmu
Welcome home,
Tinggallah,
Jangan biarkan rumahmu kosong...
(Namun demikian, jika kau berkata kau sudah melupa,
mungkin memang sudah semestinya...)
Menurutku kau mengembara
Kau berkata kau butuh waktu untuk merasa
Menurutku ini terlalu lama
Kau berkata kau bahagia karena ku bahagia
Menurutku ini adalah lara
Kau berkata kau tidak akan pulang
Menurutku tidak demikian
Ini rumahmu
Di sini kenanganmu
Di sini tersimpan kekayaanmu
Welcome home,
Tinggallah,
Jangan biarkan rumahmu kosong...
(Namun demikian, jika kau berkata kau sudah melupa,
mungkin memang sudah semestinya...)
Senin, 10 November 2008
Sahabat baruku bernama Sunyi
Ini pergelanganku
Coba kau raba
Kau rasa
Masihkah ada detaknya?
Ku bersahabat dengan sunyi
Ternyata ia tak melukai
Ia menawariku untuk bertemu pagi
Ia mau ku menjauhi mimpi
Ku hanya berkata:
"Ku memang merindukan mentari,
tetapi juga mencintai mimpi."
Sahabat baruku adalah Sunyi
Ia yang setia padaku selama ini
Coba kau raba
Kau rasa
Masihkah ada detaknya?
Ku bersahabat dengan sunyi
Ternyata ia tak melukai
Ia menawariku untuk bertemu pagi
Ia mau ku menjauhi mimpi
Ku hanya berkata:
"Ku memang merindukan mentari,
tetapi juga mencintai mimpi."
Sahabat baruku adalah Sunyi
Ia yang setia padaku selama ini
Selasa, 07 Oktober 2008
......
Dalam gemerisik angin membentur daun
kurangkum kedua genggamku
Dalam pekatnya malam
kukatupkan kedua kelopak mataku
Dalam rintik gerimis membasahi tanah kering
kubuka pelan bibirku
Kusebut namaMu dengan cinta
Kuberserah dalam kerinduan yang dalam
Kumeresapi ketidakberdayaan
Kumenyadari hanya Engkau
tempat ku berpulang
tempat ku mengadu
tentang kebodohanku,
mimpiku,
kegagalanku,
resahku,
gundahku,
marahku,
rinduku
Tentang segalanya,
hingga ku tak tahu lagi harus berkata apa
bingung,
terdiam,
tercenung,
terpekur.
kurangkum kedua genggamku
Dalam pekatnya malam
kukatupkan kedua kelopak mataku
Dalam rintik gerimis membasahi tanah kering
kubuka pelan bibirku
Kusebut namaMu dengan cinta
Kuberserah dalam kerinduan yang dalam
Kumeresapi ketidakberdayaan
Kumenyadari hanya Engkau
tempat ku berpulang
tempat ku mengadu
tentang kebodohanku,
mimpiku,
kegagalanku,
resahku,
gundahku,
marahku,
rinduku
Tentang segalanya,
hingga ku tak tahu lagi harus berkata apa
bingung,
terdiam,
tercenung,
terpekur.
Langganan:
Postingan (Atom)